Membuka Cakrawala Pengetahuan

Membuka Cakrawala Pengetahuan
Tampilkan postingan dengan label sosiologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sosiologi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 November 2011

Sosiologi Pendidikan

Nama : Fikri Arief Husaen
NIM : 09410157
NPK : 15
PAI UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2011
Definisi Sosiologi
  1. Auguste Comete, the founding father of sociology, defines sociology as the science of social phenomena "subject to natural and invariable laws, the discovery of which is the object of investigation".
(Auguste Comete, bapak pendiri sosiologi, mendefinisikan sosiologi sebagai ilmu dari fenomena sosial "tunduk pada hukum alam dan seragam, penemuan yang merupakan objek penyelidikan".)
  1. Kingsley Davis says that "Sociology is a general science of society".
(Kingsley Davis mengatakan bahwa "Sosiologi adalah ilmu umum masyarakat".)
  1. Harry M. Johnson opines that "sociology is the science that deals with social groups".
(Harry M. Johnson opines bahwa "sosiologi adalah ilmu yang berhubungan dengan kelompok sosial".)

Definisi Sosiologi Pendidikan
  1. Menurut F.G. Robbins, sosiologi pendidikan adalah sosiologi khusus yang tugasnya menyelidiki struktur dan dinamika proses pendidikan. Struktur mengandung pengertian teori dan filsafat pendidikan, sistem kebudayaan, struktur kepribadian dan hubungan kesemuanya dengantata sosial masyarakat. Sedangkan dinamika yakni proses sosial dan kultural, proses perkembangan kepribadian,dan hubungan kesemuanya dengan proses pendidikan.
  2. Menurut H.P. Fairchild dalam bukunya ”Dictionary of Sociology” dikatakan bahwa sosiologi pendidikan adalah sosiologi yang diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan yang fundamental. Jadi ia tergolong applied sociology.
  3. Menurut Prof. DR S. Nasution,M.A., Sosiologi Pendidikana dalah ilmu yang berusaha untuk mengetahui cara-cara mengendalikan proses pendidikan untuk mengembangkan kepribadian individu agar lebih baik.

Dari beberapa defenisi di atas, dapat disimpulkan bahwa sosiologi pendidikan adalah ilmu yang mempelajari seluruh aspek pendidikan, baik itu struktur, dinamika, masalah-masalah pendidikan, ataupun aspek-aspek lainnya secara mendalam melalui analisis atau pendekatan sosiologis.

Sourch/Sumber:
http://www.google.com/ Definisi of sosiology/Tuesday, March 24, 2009 | Posted by Nimesh Suranga. Sosiology of education/Friday, June 26, 2009 | Posted by Nimesh Suranga

Selasa, 11 Oktober 2011

Sosiologi Pendidikan

PERAN PENDIDIKAN DALAM PERUBAHAN SOSIAL
Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam perubahan sosial dan dalam pengadaan sumber daya manusia yang berkualitas yang mampu berdaya saing. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan memdapatkan peluang yang besar untuk meningkatkan kualitas daya saing mereka dan tingkatan rendah pendidikan seseorang maka akan mengalami kesulitan dalam menumbuhkan kemampuan daya saing seseorang. (Zainuddin Maliki, Sosiologi Pendidikan, Yogyakarta; Gadjah Mada University Press hal 272)
Namun sebenarnya, pendidikan bukan saja sebagai alat membentuk sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi, melainkan diharapkan juga ikut menentukan terjadinya berbagai perubahan social. Sebagaimana catatan sejumlah ahli, bahwa pendidikan sangat berperan dalam pembentukan kelas professional atau yang disebut kelas menengah, sebuah lapisan masyarakat yang oleh Danil S. lev sebut-sebut sebagai sumber utama bagi terjadinya perubahan.
(Zainuddin Maliki, Sosiologi Pendidikan, Yogyakarta; Gadjah Mada University Press hal 273)

MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN SEKOLAH
Manusia hidup dan tinggal sebagai anggota masyarakat, yang mana didalamnya terdapat interaksi sosial dengan orang-orang disekitarnya.  Interaksi sosial inilah yang paling berpengaruh dalam kehidupan bermasyarakat karena manusia merupakan makhluk sosial yang hidupnya sangat bergantung pada orang lain.
Dalam kehidupan sering terjadi pengelompokkan yang dibedakan dengan kelompok Primer dan kelompok Sekunder. Kelompok Primer adalah kelompok pertama dimana ia mula-mula berinteraksi dengan orang lain, yakni keluarga, kelompok sepermainan, dan lingkungan tetangga. Dalam kelompok ini ia mempelajari kebiasaan yang fundamental seperti bahasa, soal baik buruk, kemampuan untuk mengurus diri sendiri, kerjasama dan bersaing, disiplin dan sebagainya. kelompok primer ini juga sering disebut Gemeinschaft. Sedangkan kelompok Sekunder dibentuk dengan sengaja atas pertimbangan tertentu berdasarkan kebutuhan tertentu seperti perkumpulan profesi, organisasi agama, partai politik. Kelompok sekunder ini dapat hidup lama melampaui suatu generasi. Kelompok sekunder ini sering disebut Gesellschaft.
(Prof. Dr. S. Nasution, MA. Sosiologi Pendidikan, Jakarta; PT Bumi Aksara, hal 61)
Penggolongan lain terutama berdasarkan fungsinya ialah kelompok “Orang-dalam” (in-group) dan kelompok “orang-luar” (out-group). Kelompok orang dalam yang terdapat kelompok primer maupun sekunder, adalah kelompok terhadap siapa kita merasa solider, setia, akrab, bersahabat, rapat. Kita merasa bersatu, seperasaan, sepikiran, seperbuatan dengan mereka, saling memahami dan penuh cinta dan simpati.  Sedangkan terhadap kelompok orang luar kita dapat merasa tidak senang, bahkan benci, menganggapnya mereka sebagai saingan, lawan, ancaman. Begitupula dalam tingkat sekolah, khususnya pada tingkat SMA sering adanya rasa in-group yang kuat, sebagai contoh pada pertandingan antar-sekolah sering berakhir dengan perkelahian yang sering mempunyai ekr yang berlarut-larut.
(Prof. Dr. S. Nasution, MA. Sosiologi Pendidikan, Jakarta; PT Bumi Aksara, hal 61)
Kebudayaan
kebudayaan adalah suatu keberagaman yang ditimbulkan oleh masyarakat yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar daerah tersebut. Hubungan antar individu terjadi dengan adanya saling timbal balik, kebudayaan mempengaruhi individu dengan berbagai cara akan tetapi individu juga mempengaruhi kebudayaan seingga terjadi perubahan sosial.
Dalam pembagiannya kebudayaan dapat dibedakan menjadi kebudayaan eksplisit dan implisit. Kebudayaan eksplisit yang dapat diamati secara langsung dalam kelakuan verbal maupun non verbal pada anggota-anggota masyarakat. Kelakuan eksplisit misalnya dapat kita lihat pada kelakuan dua orang atau lebih dalam situasi-situasi normal menurut peranan masing-masing misalnya dalam interaksi antar suami-istri, orang tua-anak, guru-murid, atasan-bawaha, dan sebagainya. dan kebudayaan implisit terdiri atas kepercayaan, nilai-nilai dan norma-norma yang dapat ditafsirkan ahli antropologi untuk menjelaskan berbagai kelakuan anggota masyarakat. Dengan nilai-nilai kebudayaan anggota masyarakat mengetahui apakah yang layak, pantas, baik atau seharusnya. (Prof. Dr. S. Nasution, MA. Sosiologi Pendidikan, Jakarta; PT Bumi Aksara, hal 62-63)