Membuka Cakrawala Pengetahuan

Membuka Cakrawala Pengetahuan

Minggu, 05 Juni 2011

PENGEMBANGAN MEDIA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

PENGEMBANGAN MEDIA MODUL DAN TEKS
Oleh: Fikri Arief Husaen*

Penegembangan adalah proses penerjemahan spesifikasi rancangan kedalam bentuk fisik. Bila dilihat, pengembangan sekarang terkait mengenai pendidikan/ pembelajaran terdapat banyak vareasi teknologi. Akan tetapi hal tersebut tidak akan pernah terlepas dari teori dan praktek yang berhubungan dengan pembelakaran tersebut. Salah satu media pembelajaran yaitu mengembangkan media modul dan teks.
Media pembalajaran merupakan komponen intruksional yang meliputi pesan, orang, dan peralatan.  Media merupakan alat Bantu yang dapat disajikan penyalur pesan guna mencapai tujuan pengajaran. Menurut Syaifulbahri, djamarah dan aswan, “media merupakan wahan penyaluran informasi belajar atau informasi pesan. Dalam perkembangannya media pembelajran mengikuti perkembangan teknologi
Salah satu yang akan dibahasa adalah pengembangan media berupa modul dan teks. Media modul dan teks ini merupakan media teknologi cetak, karena berupa printout/cetakan materi teks maupun gambar yang dicetak. Pembahasan lebih lanjut meliputi teknologi cetak yaitu:
  1. Pengertian Teknologi Cetak.
Teknologi cetak adalah cara untuk memproduksi atau menyebarkan materi, seperti buku, modul, printout, handout, dan materi visual statis berupa teks ataupun gambar, yang pada umumnya dilakukan melalui proses cetak mekanis atau fotografis.
Subktegori ini mencakup teks, grafis, dan sajian reproduksi foto.
Materi cetak dan visual melibatkan teknologi yang paling dasar. Bentuknya dalam hardcopy dan digunakan untuk media pembelajaran dan ini merupakan penyebaran/pengembangan melalui media cetak.
            Dua komponen utama pengembangan teknologi ini adalah materi teks verbal dan materi visual. Media ini pembelajarannya lebih kepada teori. Dalam bentuk murninya, media visual dapat membawakan pesan lengkap, tetapi hal ini dalam interaksi pembelajaran, kebanyakan yang ada ialah paduan informasi tekstual dan visual.  
2. Karekteristik Teknologi Cetak
Adapun Beberapa Karakteristik media cetak ini yaitu:
a. teks dibaca secara linear, sedangkan visual disajikan secara parsial.
b.  menampilkan komunikasi secara satu arah dan reseptif.
c. ditampilkan secara statis atau diam.
d.pengembangannya sangat tergantung kepada prinsip-prinsip pembahasan    dan persepsi visual.
e. berorientasi atau berpusat pada siswa.
            Pendekatan yang berorientasi pada siswa adalah pendekatan dalam belajar yang ditekankan pada cirri-ciri dan kebutuhan siswa secara individual. Sedangkan lembaga atau pengajar berfungsi sebagai penunjang dan fasilitator.
3.      Pemanfaatan Media Cetak Dalam Pendidikan
Media cetak khususnya modul merupakan media utama yang digunakan dalam pendidikan. Beberapa pemanfaatan media cetak dalam pendidikan yaitu sebagai berikut:
1.      Modul dan media cetak berbeda dengan foster, lembar kerja,dll yaitu yang dibutuhkan untuk semua mata pelajaran telah dirancang dan diproduksi sesuai dengan prinsip pengembangan bahan belajar mandiri.
2.      Modul-modul yang dibutuhkan tersebut didistribusikan dengan baik keseluruh pengajar dan peserta didik sesuai dengan mata pembelajarannya.
3.      Pastikan pengajar telah memahami modul sesuai pembelajarannya untuk memudahkan dalam proses pembelajaran khususnya penyampian materi pada peserta didik.
4.      Beri kesimpulan kepada para peserta didik untuk mengukur keberhasilan belajarnya.
            Demikian yang dapat kami sajikan mengenai Pengembangan Media Pendidikan Agama Islam terkait tentang pengembangan  Teknologi Cetak yaitu Pengembangan Media Modul dan Teks.



QS. An-Nisa ayat 36 – 38


Pendahuluan
Surat An Nisa terdiri dari 176 ayat, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al-Baqoroh. Dinamakan An Nisa karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupaan surat yang paling membicarakan hal itu disbanding dengan surat lain. Surat yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surat At Thalaq. Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisa dengan sebutan: Surat An Nisa Al Kubra (surat An Nisa yang besar), sedangkan surat At Thalaq disebut dengan sebutan: Surat An Nisa Ash Sughra (surat An Nisa yang kecil).
Pada pembahasan QS. An Nisa : 36 -37 yaitu mengenai tentang “Kewajiban terhadap Allah dan terhadap sesama manusia” yang mana kewajiban manusia untuk menyembah dan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, Dan perintah berbuat baik kepada kedua orang tua (ibu-bapa), karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh , dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya. Dan juga larangan untuk berbuat dan mengajak kikir, karena kikir merupakan sifat yang paling dibenci Allah karena ia telah kufur nikmat yaitu dengan menyembunyikan karunia yang Allah berikan.  Dan terhadap orang yang berbuat demikianlah Allah telah menyediakan tempat dan siksa yang menghinakan.

Pembahasan
1.      QS. An-Nisa : 36 – 38 
وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالاً فَخُوراً
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh , dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,
الَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَيَكْتُمُونَ مَا آتَاهُمُ اللّهُ مِن فَضْلِهِ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَاباً مُّهِيناً
(yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan.
وَالَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ رِئَـاء النَّاسِ وَلاَ يُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلاَ بِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَن يَكُنِ الشَّيْطَانُ لَهُ قَرِيناً فَسَاء قِرِيناً
Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya.
Tafsir ayat 36
Penjelasan
Dekat dan jauh disini  ada yang mengartikan dengan tempat, hubungan kekeluargaan dan adapua yang muslim dan yang non muslim[1]       

Kemudian Ibnu sabil di sini diartikan orang yang dalam perjalanan yang bukan maksiat yang kehabisan bekal, termasuk juga orang yang tidak diketahui ibu bapaknya. Dan orang-orang yang mengembara untuk keperluan Islam dan Muslimin.[2]

Dalam ayat 36 tersebut diatas, Allah menjelaskan kewajiban-kewajiban bagi seorang Muslim yang secara garis besarnya ada tiga macam. Ketiga macam kewajiban tersebut adalah :
1.      Kewajiban kepada Allah, yaitu menyembah dan tidak mempersekutukannya.
  1. Berbuat baik kepada kedua orang tua
  2. Berbuat baik kepada masyarakat, yaitu kepada keluarga dekat, tetangga dekat dan jauh, kepada orang yang berada dalam perjalanan, dan berbuat baik kepada orang-orang yang berada di bawah tanggungannya.
Dari ayat ini jelas bahwa manusia sebagai makhluk sosial tidak hanya berkewajiban menyembah Allah SWT, akan tetapi ia juga harus memiliki sifat peduli terhadap masyarakat di sekitarnya, sehingga boleh dikatakan bahwa ibadah seseorang tidak akan sempurna bila tidak dibarengi dengan kepedulian terhadap keadaan masyarakat sekitarnya. Sebab kalau dilihat dari segi bahasa, rangkaian perintah tadi menggunakan kata sambung wa ( artinya=dan).
Maksudnya, kalau perintah menyembah Allah itu wajib maka berbuat baik kepada kedua orang tua, kerabat, anak yatim, dan sebagainya juga wajib. Ayat itu diakhiri dengan Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”. Karena orang yang sombong senantiasa meremehkan semua hak orang-orang lain, memandang orang lain rendah dan hina. Sifat angkuh dan sombong jelas akan menjauhkan seseorang dari masyarakat dan tidak disenangi oleh masyarakat, sehingga akhirnya hubungan harmonis antar sesama manusia menjadi sirna. Bila hubungan antar manusia tidak lagi berjalan dengan harmonis maka hilanglah salah satu sifat manusia sebagai makhluk sosial. Oleh karena itu, sifat sombong sangat dibenci oleh Allah SWT.
Kemudian Ayat 37 menjelaskan orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri yaitu orang yang kikir dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Orang kikir disini adalah orang yang enggan memberikan hartanya kepada orang lain yang membutuhkan yang kemudian ia menyembunyikan hartanya. Dan untuk orang yang demikian itu Allah telah menyediakan siksaan yang pedih dan menghinakan. Dan kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan.
Maksudnya kafir disini yaitu terhadap nikmat Allah, ialah karena kikir, menyuruh orang lain berbuat kikir. Menyembunyikan karunia Allah berarti tidak mensyukuri nikmat Allah.
Dalam ayat 37 tersebut diatas, Allah menjelaskan hal-hal yang harus dihindari bagi seorang Muslim yaitu:
1.      Larangan untuk berbuat dan mengajak untuk kikir
2.      Larangan menyembunyikan harta, karena hakikatnya harta yang dimiliki terdapat hak orang lain yang harus disampaikan

Tidak hanya sebatas itu, juga orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Riya ialah melakukan sesuatu karena ingin dilihat dan dipuji orang. Orang yang tidak kikir akan tetapi dia sombong dengan seanatisa membangga-banggakan hartanya, ketika ia menafkahkan hartanya selalu ingin dilihat dan dipuji oleh orang lain. Dan itu pertanda bahwa mereka bersekutu atau menjadi teman syaitan, maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya teman yang menjerumuskan manusia dari jalan kebenaran.
Dalam ayat 37 ini menerangkan bahwa :
1.      Allah melarang seseorang bersifat riya
2.      Larangan bersekutu dengan syaitan
Riya adalah sifat yang dibenci oleh Allah, dan riya dapat menghilangkan segala amal ibadah yang dilakukan karena niat dan tujuannya bukan karena Allah ta’ala, segala ibadah dinilai  tergantung pada niatnya. Dan senantiasa menjauhi bisikan dan bujukan syaitan, karena syaitan adalah musuh yang nyata bagi umat muslim yang menjerumuskan kepada lubang yang hina.


[1] Al-Quran dan Terjemahan
[2] Ibid

Sabtu, 04 Juni 2011

REMAJA DAN MASJID


REMAJA DAN MASJID
Oleh: Fikri Arief Husaen* 


BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Masjid merupakan tempat/ sarana peribadatan bagi umat muslim. Masjid menyimpan misteri yang luar biasa. Ia hadir di tengah-tengah umat manusia, dan juga ia merupakan tempat kendali semua kekuatan umat.
Namun kenyataanya tidak demikian, banyak masjid yang tidak digunakan baik dari segi sarana, peran dan fungsinya secara optimal. Masjid hanya dijadikan sebagai hiasan (bangunan indah) yang sepi akan umat muslim dan kajian-kajian islam sebagai mestinya. Lantas siapakah yang salah? Dan apa yang terjadi pada diri umat muslim?
Sebenarnya kita sebagai umat muslim yang harus mambenahinya. Remaja dan pemuda merupakan kelompok yang memliki peran penting dalam hal ini, karena generasi muda merupakan generasi harapan yang dapat memajukan umat, bangsa dan Negara. Apabila kaum remaja dan pemuda sudah memiliki keterpautan dengan masjid, maka ia akan menjadi remaja dan pemuda yang tangguh, kuat akan imannya, dan baik budi pekertinya (akhlaknya).

Rumusan Masalah
Dalam hal ini ada beberapa rumusan masalah yakni diantaranya:
Pengertian remaja dan masjid
            Peran remaja terhadap masjid
Urgensi masjid bagi umat islam
Peran dan fungsi masjid

Pemecahan Masalah
Langkah-langkah memakmurkan masjid:
Menyamakan persepsi
Menumbuhkan rasa memiliki terhadap masjid




BAB II
PEMBAHASAN

Pengertian Remaja dan Masjid
Remaja
      Remaja marupakan sosok manusia yang berada dalam proses transisi menuju kedewasaan. Remaja dan pemuda merupakan kelompok usia yang sangat potensial, karena di dalam diri remaja memiliki bakat dan minat yang luar biasa. Generasi muda seringkali disebut sebagai generasi harapan; harapan dirinya sendiri, keluarga, masyarakat agama, bangsa dan Negara.
      Dengan kata lain remaja dan pemuda merupakan tonggak atau tolak ukur untuk mencapai suatu perubahan. A young today is a leader of tomorrow,”pemuda hari ini merupakan pemimpin esok hari”. Apabila dalam suatu Negara remaja dan pemudanya baik, maka akan baiklah Negara tersebut. Namun sebaliknya, apabila remaja dan pemudanya rusak moralnya, maka akan rusaklah Negara tersebut.
Masjid
      Masjid berasal dari kata sajada-yasjudu yang berarti merendahkan diri, menyembah, atau sujud. Dengan kata lain masjid marupakan tempat ibadah atau shalat bagi umat muslim. Masjid juga merupakan baitullah (rumah Allah) yang didalamnya tempat untuk merendahkan diri, tunduk dan taat, serta menyucikan diri.
      Masjid dapat disebut juga tempat yang Allah menjadikannya tempat untuk beribadah, bersyukur, memohon ampunan padanya, dan juga sebagai obat serta ketentraman jiwa.
      Sabagaimana firmannya: “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah, maka janganlah kamu menyembah seorangpun didalamnya disamping (menyembah) Allah. (QS. Al-Jinn:18).
Peran Remaja terhadap Masjid.
      Kedudukan remaja terhadap masjid memiliki peran yang sangat penting. Dalam konteks kemasjidan, generasi muda menjadi tulang punggung dan harapan besar bagi kemakmuran masjid pada masa kini dan mendatang.
      Rasulullah SAW bersabda: Ada tujuh golongan orang yang akan dinaungi Allah yang pada hari itu tidak ada naungan keculi dari-Nya yaitu: pemuda yang perkembangan hidupnya senantiasa beribadah (taat) kepada Allah dan seseorang  yang hatinya sterpaut dengan masjid ketika ia keluar hingga kembali padanya”. (HR. Bukhari Muslim).
      Ada dua hal yang harus diperhatikan untuk kemakmuran masjid yang ditujukan kepada kalangan remaja dan pemuda, yakni diantaranya:
Kepengurusan
      Merupakan wadah utama dalam pengkaderan bidang kemasjidan terhadap generasi muda. Dalam pengkaderan kepengurusan ini, generasi muda dituntut untuk lebih memperhatikan dengan serius dan sungguh-sungguh dalam memakmurkan dan menjaga eksistensi masjid.
Program kegiatan
      Setelah tersusun dan tertata dengan baik kepengurusan masjid, kemudian membuat program kegiatan jangka panjang selama kepengurusan berlangsung, yang didalamnya terdapat pembinaan, rohani, program yang bersifat hobi dan pengembangan bakat. Jadikan sebuah kegiatan bukan sebagai beban, akan tetapi sebagai suatu hobi dan bakat. Dengan itu, remaja yang aktif dalam pembangunan dan kemakmuran masjid (Remaja Masjid) bisa lebih mudah dalam memajukan dan menghidupkan urgensi, fungsi, dari masjid itu sendiri.
    Urgensi Masjid Bagi Umat Islam
        Masjid merupakan tempat yang sangat penting bagi umat islam. Ibarat air dengan ikan. Tanpa air ikan tidak akan bisa tahan hidup lebih lama, begitupula dengan masjid. Tanpa masjid umat manusia tidak akan memiliki iman yang kuat dan kokoh.
        Ada beberapa urgensi masjid bagi umat islam yaitu antara lain:
Sarana pembinaan iman
      Rasulullah SAW menjadikan masjid sebagai pembinaan iman kepada para sahabat agar menjadikannya iman yang kuat dan sempurna. Sebagaimana sabda beliau: “Mukmin yang sempurna imannya, niscaya bagus akhlaknya”. (HR. Bukhari Muslim).
      Iman yang mantap akan menghasilkan akhlak yang mulia. Sebagaimana firman Allah SWT: “Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. At-Taubah:18)
Sarana pembinaan masyarakat Islam
      Rasulullah dan para sahabat merasakan urgensi masjid bagi pembinaan masyarakat, karena dari masjid itulah para sahabat memiliki iman yang kokoh, keikhlasan yang mengagumkan, ilmu yang luas, harga diri (Izzah) yang mahal, ukhuwah islamiyah yang indah, pengorbanan yang tiada terkira, barisan perjuangan yang tersusun rapi, dan semangat perjuangan yang tinggi.
      Mewujudkan masyarakat yang mengagumkan sebagaimana yang telah dicapai Rasulullah, maka masjid merupakan sarana terpenting untuk dimanfaatkan. Hati yang selalu terpaut dengan masjid itulah yang menyebabkan kaum muslimin tidak berani dan tidak mau menyimpang dari jalan Allah, sehingga akan memperoleh perlindungan dari Allah di akhirat kelak yng pada hari itu tiada perlindungan selain dari-Nya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “ada tujuh golongan orang yang akan dinaungi Allah yang pada hari itu tidak ada naungan kecuali dari-Nya yaitu:”. . .seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid ketika ia keluar dan kembali padanya”. (HR. Bukhari Muslim).
Sarana pengokoh ukhuwah islamiyah
      Ciri utama masyarakat islam sejati adalah ukhuwah islamiyah yang kokoh dengan sesamanya, saling menolong (ta’awun) dalam kebaikan dan takwa. Sebagaimana firman Allah SWT: “. . .Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. . . . . . . . . .
(QS. Al-Maidah:2).
Sebagaimana pada zaman Rasulullah SAW yang mempersatukan antara kaum muhajirin dan anshar. Bagaimana tidak terjalin ukhuwah islamiyah karena di masjid berlangsung shalat berjamaah lima kali setiap harinya.
Sarana Tarbiyah
        Pada masa Rasulullah SAW masjid juga digunakan sebagai sarana pendidikan (Tarbiyah) Rasulullah mengajarkan ilmu kepada para sahabat, sehingga para sahabat mendapatkan pengetahuan dan wawasan, serta dapat membedakan antara yang hak dan bathil.

Peran dan Fungsi Masjid
        Fungsi yang optimal adalah masjid yang didirikan atas dasar takwa, sebagaimana firman Allah SWT: “Janganlah kamu bersembahyang dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama adalah lebih patut kamu bersembahyang didalamnya. Didalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih. (QS. At-Taubah:108).
Maka jelaslah peran dan fungsi dari masjid itu sendiri. Rasulullah SAW pernah bersabda: “Sesungguhnya akan datang pada umatku suatu masa dimana mereka saling bermegah-megahan dengan membangun masjid tapi yang memakmurkannya hanya sedikit”. (HR. Abu Dawud).
Beberapa fungsi masjid antara lain:
Tempat pelaksanaan peribadatan
        Masjid sebagai tempat untuk berserah diri, menyembah, dan sujud memohon kasih sayang Allah SWT, namun fungsi yang utamanya adalah shalat dan dzikir.
Tempat pertemuan
        Pertemuan fisik, hati, dan pikiran antara kaum muslimin dengan berbagai latar belakang, status sosial, warna kulit, etnis, dan kedudukan di masyarakat.
Tempat musyawarah
        Tempat untuk merencanakan sesuatu masalah, memecahkan persoalan yang terjadi baik urusan pribadi, keluarga, umat secara keseluruhan, dll.
Tempat kegiatan sosial
        Tempat untuk berbagai kegiatan sosial, misalnya; mengumpulkan zakat, infak, dan shodaqah melalui masjid kemudian menyalurkannya kepada orang-orang yang membutuhkannya.
Tempat penerangan dan madrasah ilmu
        Tempat untuk mengajar, membina, dan mendidik melalui khotbah, tabligh, dan majlis ta’lim.
BAB III
PEMECAHAN MASALAH

Langkah-langkah memakmurkan mesjid:
menyamakan persepsi
     Solusi untuk memakmuran masjid diantaranya yaitu; menyamaratakan pemahaman secara utuh tentang urgensi, peran, dan fungsi masjid, serta bagaimana mewujudkan masjid yang ideal yang tetap berpengaruh dan bermakna bagi umat muslim.
Menumbuhkan rasa memiliki terhadap masjid
              Agar masjid menjadi makmur dan senantiasa peran dan fungsinya terealisasikan dengan optimal dan baik, maka kita sebagai umat muslim harus memiliki rasa kepedulian dan rasa memiliki terhadap masjid . dengan ini maka kita senantiasa akan menjaga dan melestarikan keberadaan masjid agar menjadi masjid yang ideal dan berpengaruh besar bagi umat muslim. 

BAB IV
PENUTUP

Dari berbagai uraian yang telah disampaikan, maka dapat diambil kesimpulan:
Peran remaja terhadap masjid memiliki peranan yang sangat penting, karena kaum remaja dan pemuda merupakan generasi harapan yang menjadi tulang punggung dan harapan besar bagi kemakmura masjid pada masa kini dan mendatang.
Masjid merupakan tempat yang sangat penting bagi umat islam sebagai sarana untuk ibadah dan memperkuat iman, pembinaan masyarakat islam, pengokohan ukhuwah  islamiyah, dan sebagai sarana tarbiyah.
Peran dan fungsi masjid yang begitu penting  yakni sebagai tempat peribadatan, pertemuan, bermusyawarah, kegiatan sosial, dan sebagai penerang madrasah ilmu.
Menyamakan persepsi tentang urgensi, peran, dan fungsi masjid, serta menumbuhkan rasa memiliki terhadap masjid merupakan langkah-langkah untuk memakmuran masjid.

HUMAS PENDIDIKAN


 
Enam komponen komunikasi yaitu:
Dari keenam komponen itu, yang paling menentukan dalam pencapaian tujuan adalah pada si pengirim berita, karena pengirim berita adalah sebagai penentu suatu berita itu sendiri arah dan tujuannya. Berita akan tersampaikan dengan baik apabila si pengirim berita menyampaikan maksud dan tujuan berita itu dengan baik pula, namun sebaliknya bila tidak disampaikan dengan baik maka akan menimbulkan banyak persepsi atau pemahaman yang berbeda pada pihak yang menrima pesan atau berita. Penerima pesan posisinya sebagai objek yang menerima apa adanya suatu pesan atau berita yang disampaikan dari si pengirim berita. Oleh karenanya pengirim berita yang menjadi efek dan memeiliki peran penting dalam pencapaian tujuan, dan dalam penyampaiannya akan menimbulkan banyak variasi tergantung daya penangkapan atau pemahaman si penerima berita/pesan.
Pengirim berita juga harus menjadi komunikator atau coder yang baik. Karena hal itu sangat berdampak ketika pengirim berita tidak menyampaikannya dengan baik maka hasilnya akan tidak jelas dan bahkan akan rancu untuk bisa dipahami dan akhirnya hal itumenjadi penyebab terjadinya perbedaan dalam menyimpulkan suatu pesan/ berita. Oleh karena itu pengirim berita dituntut suatu persyaratan bahasa yang baik, harus sehat, secara sadar, tidak gugup dan sebagainya.
Media atau sarana penyampaian berita yaitu suatu benda yang digunakan untuk menyampaikan berita. Contoh: surat kabar (untuk berita tertulis), bahasa bermakna, televisi (berita gambar dan suara), radio, dan sebagainya. Tentu itu akan sangat berpengaruh terhadap pesan berita itu sendiri dalam penyampaiannya terhadap berbagai media. Pesan atau berita disampaikan oleh media yang kiranya bersangkutan dan sesuai dengan isi pesan berita yang hendak disampaikan.  Bila isi pesan berita yang mengaruskan adanya Audio dan Visual maka harus disampaikan melalui media televisi agar jelas dan mudah dipahami oleh penerima, tapi sebaliknya bila pesan berita membutuhkan audio dan visual tetapi disampaikan melalui media cetak (surat kabar) maka pesan berita tidak akan tersampaikan dengan baik dan itu sangat kurang efektif dan berdampak pada kejelasan suatu berita yang menimbulkan banyak perbedaan terhadap isi pesan berita itu sendiri. Penyampaian berita yang baik adalah penyampaian yang menggunakan media yang sesuai dengan isi pesan berita itu sendiri.
Berita adalah suatu pesan atau isyarat yang biasanya disampaikan berbentuk symbol-simbol yang mengandung arti. Pesan tersebut dapat berupa:
Gerak: lambaian tangan, anggukan kepala, kerlingan mata dan sebgainya.
Suara: dentuman meriam, klakson, dering, bahasa, dan sebagainya.
Benda: tanda, tulisan, benda putih, sabuk hitam, dan sebagainya.
Berita juga mengandung srti suatu hal keadaan/ peristiwa yang memiliki arti atau makna didalamnya yang menjadikan sebuah topik pembahasan.
Sedangkan media adalah suatu sarana penyampai berita, yaitu benda yang digunakan untuk menyampaikan berita. Bila berita itu isi/materinya, dan media adalah sarananya sebagai perangkat untuk menyampaikan berita.
Maka jelaslah perbedaan antara berita dan media, berita adalah menyangkut pesan yang akan disampaikan sedangkan media adalah sarana penyampaian pesan.